Jakarta-DKI

Nonton Film di Pasar? Anggota Dewan Jaktim Lihat Peluang buat UMKM

M. Al Fatih mendorong Jaksinema yang terjangkau dan punya pilihan film khas Jakarta. Ia melihat bioskop pasar bisa ikut menghidupkan aktivitas pedagang—jika konsepnya dijalankan dengan baik.

Ilustrasi AI M. Al Fatih dengan latar konseptual pasar dan layar film.Ilustrasi AI

Potret M. Al Fatih dengan latar konseptual pasar dan layar film; bukan dokumentasi peristiwa atau fasilitas Jaksinema yang sudah buka. Ilustrasi AI, bukan dokumentasi kejadian. Kredit: JaktimPop

Bayangin mampir ke pasar buat beli kebutuhan rumah, lalu ada pilihan nonton film di tempat yang sama. Ide itu yang sedang didorong anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta M. Al Fatih. Jumat (25/9), ia menilai Jaksinema punya peluang menjadi ruang hiburan yang lebih dekat dengan warga sekaligus memberi alasan baru untuk datang ke pasar.

Tapi, katanya, menambah layar saja belum cukup. Harga tiket dan lokasi harus terjangkau, sementara pilihan film perlu punya karakter. Ia ingin ada ruang untuk cerita tentang Jakarta: sejarah, budaya, karya sineas lokal, film independen, dokumenter, sampai tontonan anak dan edukasi. Jadi, orang datang bukan semata karena ada bioskop baru, melainkan karena programnya menarik.

Lalu pedagang pasar dapat apa? Harapannya, penonton yang datang bisa sekalian makan, berbelanja, atau mampir ke lapak UMKM. Itu masih potensi yang disampaikan Al Fatih, bukan bukti bahwa omzet pedagang sudah naik. Hasilnya tentu baru bisa dilihat setelah lokasi, harga, kurasi film, dan respons pengunjung benar-benar berjalan.

Buat warga Jaktim, gagasan ini menarik karena pasar adalah tempat yang akrab, sementara nonton film sering berarti pergi ke pusat belanja. Kalau Jaksinema kelak hadir dengan biaya dan akses yang masuk akal, pasar bisa punya cerita sore yang berbeda. Untuk sekarang, yang ada adalah dorongan agar programnya dievaluasi dan dikembangkan dengan manfaat nyata bagi warga.

Sumber & pembaruan

Ada yang perlu diluruskan? Kirim koreksi.