Di satu sekolah, jadwal pelajaran mungkin terlihat biasa saja. Di baliknya, ada guru yang harus menanggung beban mengajar lebih besar karena kebutuhan tenaga pendidik belum merata. Kondisi itu disoroti anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Ghozi Zulazmi pada Kamis (24/9), setelah rapat dengan Dinas Pendidikan dan menerima laporan dari guru di lapangan.
Angka yang ia bahas cukup besar: 2.545 formasi KKI dalam pembahasan anggaran 2026, terdiri dari 1.879 pendidik dan 666 tenaga kependidikan untuk jenjang PAUD hingga SMK. Namun, Ghozi mengingatkan jumlah itu belum otomatis menjawab semua kekurangan. Matematika, Fisika, Bahasa Inggris, dan guru produktif SMK termasuk bidang yang disebut masih mengalami penumpukan kebutuhan.
Kok bisa formasinya banyak, tapi masalahnya belum selesai? Sebab kebutuhan setiap sekolah dan mata pelajaran tidak sama. Karena itu, ia mendorong rekrutmen KKI disesuaikan dengan peta kebutuhan nyata, bukan sekadar mengejar angka total. Ia juga menyinggung hak guru non-ASN, peningkatan kualifikasi, sertifikasi, dan kemampuan anggaran daerah.
Buat murid dan orang tua, ujungnya sederhana: ada guru yang tepat saat pelajaran berlangsung, dan beban mengajar tidak bertumpu pada segelintir orang. Usulan Ghozi masih perlu diterjemahkan ke penempatan dan pemenuhan kebutuhan di sekolah. Jadi, setelah angka formasi diumumkan, pertanyaan berikutnya adalah sekolah mana yang benar-benar terbantu.
Sumber & pembaruan
Ada yang perlu diluruskan? Kirim koreksi.
