Jakarta-DKI

Bawa Sepeda ke MRT? Jenisnya Bikin Aturannya Beda

Sepeda lipat dan nonlipat punya ketentuan akses berbeda. Kenali prinsipnya sebelum menyambung perjalanan dengan MRT.

Ratangga MRT Jakarta berangkat dari Stasiun ASEAN. Foto konteks salah satu moda, bukan bukti transaksi tarif integrasi.

Ratangga MRT Jakarta berangkat dari Stasiun ASEAN. Foto konteks salah satu moda, bukan bukti transaksi tarif integrasi. Foto disesuaikan ukuran dan dapat dipotong untuk tampilan website. Kredit: VulcanSphere · CC BY 4.0

Mulai dari jenis sepedanya

Perjalanan bersepeda kadang perlu disambung dengan kereta. Kalau pilihannya MRT Jakarta, jenis sepeda menjadi hal pertama yang perlu diperhatikan. FAQ operator membedakan ketentuan sepeda lipat dan nonlipat, meskipun keduanya diperbolehkan masuk ratangga dengan syarat masing-masing.

FAQ menyebut sepeda lipat dapat dibawa melalui semua stasiun. Pedoman perjalanan juga meminta sepeda yang dapat dilipat berada dalam kondisi terlipat di area MRT. Artinya, kemampuan melipat bukan sekadar nama jenis sepeda, tetapi bagian dari cara membawanya.

Rencanakan sambungannya

Untuk sepeda nonlipat, ada pembatasan stasiun dan waktu di luar jam sibuk. Karena rincian ketentuan dapat berubah, pastikan akses yang sesuai melalui informasi operator sebelum berangkat. Jangan berasumsi pintu masuk yang biasa digunakan tanpa sepeda akan selalu sesuai untuk perjalanan kali ini.

Barang bawaan juga harus ditempatkan tanpa mengganggu atau membahayakan penumpang lain. Sisakan waktu untuk mengikuti arahan petugas dan menata sepeda. Sebelum jalan, cocokkan jenis serta ukuran sepedamu, stasiun yang akan dipakai, dan jam keberangkatan dengan ketentuan operator terbaru. Dengan begitu, rencana sambungannya sudah jelas sebelum tiba di stasiun.

Sumber & pembaruan

Ada yang perlu diluruskan? Kirim koreksi.