Jatinegara

Stasiun Jatinegara Menyimpan Cerita Lebih dari Transit

Di balik kesibukan transit, Stasiun Jatinegara punya jejak panjang dalam jaringan kereta dan sejarah Indonesia.

Bangunan Stasiun Jatinegara. Foto konteks kawasan masa kini, bukan dokumentasi zaman Meester Cornelis.

Bangunan Stasiun Jatinegara. Foto konteks kawasan masa kini, bukan dokumentasi zaman Meester Cornelis. Foto disesuaikan ukuran dan dapat dipotong untuk tampilan website. Kredit: ArdWar · CC BY 4.0

Lebih tua dari perjalanan hari ini

Stasiun yang sering dilewati bisa terasa hanya sebagai titik naik, turun, atau berganti kereta. Jatinegara menyimpan cerita yang lebih panjang. KAI menelusuri awal layanan Meester Cornelis ke pembukaan jaringan Batavia–Meester Cornelis–Bekasi oleh BOSM pada 31 Maret 1887.

Nama stasiun kemudian ikut berubah menjadi Jatinegara pada masa pendudukan Jepang. Dalam catatan KAI, lokomotif C2849 dari Dipo Jatinegara disiapkan untuk membawa rombongan Presiden Soekarno menuju Yogyakarta pada Januari 1946.

Sejarahnya terus bertambah

Perkembangan stasiun juga mencakup rehabilitasi persinyalan pada 1983 dan jalur rel pada 1987. KAI menyatakan bangunan Stasiun Jatinegara telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah tempat dapat menjalankan fungsi transportasi sambil menyimpan lapisan sejarah.

Ada dua riwayat yang perlu dibedakan: awal layanan kereta dan usia gedung stasiun. Angka 1887 di atas menunjuk pembukaan layanan, sehingga belum menjawab kapan bangunan yang sekarang dibuat. Saat melewatinya, kamu bisa memperhatikan jejak bangunan sambil tetap mengikuti petunjuk stasiun. Untuk memasuki area tertentu atau mengambil foto, perhatikan batas akses dan ketentuan yang berlaku di lokasi.

Sumber & pembaruan

Ada yang perlu diluruskan? Kirim koreksi.